Rubrik Perajin

pak aso

Profil Perajin :

Kelompok Widya Craft dari Subang ,Jawa Barat

Pada tahun 2007, Bapak Aso Darso (47 Tahun)  memulai usaha kerajinan bersama istrinya, Ibu Ningsih (47 Tahun).  Usaha kerajinan Pak Aso khusus pada produk-produk kerajinan kayu dan menjualnya ke wilayah Yogyakarta, Bali dan Jakarta. Kemudian usahanya mulai menurun akibat krisis ekonomi melanda Indonesia. Sampai pada akhirnya usahanya mulai bangkit kembali saat bertemu Pekerti pada tahun 2008. Pekerti memberikan dukungan melalui penyediaan training bagi kelompok usaha Pak Aso dan mencari buyer (pembeli luar negeri) untuk membeli produk kerajinan Pak Aso.

 

Pak Aso memiliki kemampuan menerjemahkan sketsa gambar menjadi sebuah produk yang berkualitas dan didukung oleh kemampuan menemen istrinya, Ibu Ningsih, hal ini menjadi modal  bagi pasangan ini untuk mengembangkan usahanya “Widya Craft” (yang sebelumnya bernama “Dadan Craft”), dengan jumlah pekerja 25 orang, semuanya dari wilayah sekitar Desa Saradan.

“Kami harus membuat produk yang bagus dan berkualitas, karena, dengan produk yang bagus dan berkualitas akan disukai oleh pembeli dan jika produk kita disukai pembeli maka mereka akan menambah pesanannya ke kita”, ungkap Ibu Ningsih.  Ibu Ningsing percaya bahwa dengan pelayanan yang baik maka akan mendapatkan pesanan lebih banyak. “Jika kita mendapatkan banyak pesanan banyak maka pekerja kita tidak menganggur dan mereka bisa terus bekerja untuk memperoleh pendapatan.

Pak Aso membeli bahan baku kayu dari petani disekitar wilayah desanya, sehingga harganya menjadi lebih murah. Dalam hal proses produksi, Pak Aso menggunakan sub kontrak, khususnya untuk membuat produk mentahan dan untuk proses pengecatan, pak Aso menggunakan 10 orang tenaga kerja borongan. “Seluruh pekerja saya bayar per produk (borongan),” ungkap Ibu Ningsing. “Mereka bekerja menjadi lebih produktif dan efektif,” jawab Ibu Ningsih saat kami tanyakan mengapa dia memutuskan untuk tidak lagi membayar pekerjanya per jam.

Agar memperoleh kualitas produk yang lebih baik untuk pelanggan, Pak Aso menggunakan cat tanpa racun yang dia beli dari Jakarta. Untuk menghindari kesalahan fatal dalam membuat produk, Pak Aso mengikuti arahan dari Tim Pekerti dalam melakukan proses pengawasan kualitas di setiap tahapan proses produksi. Sistim pengawasan kualitas yang dilakukan pada setiap tahapan produksi sangat bermanfaat dan membantu mengurangi produk yang ditolak (direjek).

“Kunjungan buyer (pembeli luar negeri), juga menjadi tambahan pengetahuan bagi kami untuk membuat produk dan mengelola kegiatan usaha lebih baik. Para buyer tersebut tidak hanya memberikan masukan tentang produk, tetapi juga memberikan masukan untuk kondisi bengkel kerja. Kami berharap untuk terus bisa bekerja sama dengan Pekerti, karena dengan kerja sama ini kami mersakan banyak manfaatnya yaitu mendapat tambahan pengetahuan dan sistim pembayaran yang lebih baik dibandingkan dengan pembeli lain. Melalui Fair Trade, kami juga sering mendapatkan pelatihan untuk peningkatan pengetahuan dan keterampilan dan kami juga jadi tahu tentang bagaimana kondisi kerja yang aman dan nyaman. Kami berharap pesanan terus berlanjut, sehingga para pekerja bisa terus bekerja untuk memperoleh pendapatan,” ungkap Ibu Ningsih.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *