Rubrik Perajin

Profil Perajin :Kelompok Pramanik Artheru

Sumedang,Jawa Barat

Memori pertama Heru Firmansyah untuk sejarah panjang keluarganya tentang produksi kerajinan adalah tentang kakeknya, Pak Oyo, yang membuat ukiran patung kuda dari tulang. Saat itu dia baru berusia lima tahun. Berlokasi di Sumedang, di rumah yang sama tempat cucunya tinggal hari ini, Pak Oyo itu menumbuhkan sebuah bisnis.

 “Indonesia memiliki banyak perkebunan karet,” kata Heru. “Kakek saya melihat (Belanda) membuat dan menjual produk-produk dari getah pohon karet, dan melihat bahwa hal itu membuat mereka banyak uang. Jadi, dia memutuskan untuk menirunya. “

Lama setelah Belanda meninggalkan Indonesia, keluarga Heru terus memproduksi produk kerajinan. Ayah Heru, Pak Enjang Sudrajat, meneruskan ketrampilan yang diwariskan  Pak Oyo untuk membuat produk didgeridoo dari kayu dan bambu yang merupakan kerajinan khas dari Australia, juga panah hias dan patung-patung Bali, yang selanjutnya oleh Heru diteruskan  untuk memproduksi dan menjualnya di Bali. Heru belajar membuat proses ukiran tradisional dari Pak Enjang pada usia 17 tahun.

Tahun 1994  Pak Enjang menerima kunjungan Pekerti yang tertarik melihat produk dan proses produksi untuk menilai kesesuaian usaha sebagai perajin Fair Trade. Kemudian Pak Enjang  menjadi mitra Pekerti, dan selanjutnya usaha kerajinan Pak Enjang semakin berkembang dan bisa mempekerjakan 12 orang pekerja. Dengan menjadi mitra Pekerti, memungkinkan kelompok usaha Pak Enjang mendapatkan pelatihan Fair Trade.

Pada tahun 2007 Pak Enjang meninggal, kemudian Heru meneruskan hubungan kerja sama dengan Pekerti. Dalam menanggapi tuntutan pertumbuhan pasar internasional, Heru terus meningkatkan keterampilannya. Kelompok usaha yang diberi nama “Pramanik”, yang berarti ‘cantik’, menghasilkan alat musik, mainan anak, patung-patung hias dan topeng, dan kotak dan frame dekorasi. Pelatihan pengembangan produk yang diterimanya dari Pekerti juga telah membantu Pramanik untuk memproduksi produklainnya yaitu furnitur dan mengembangkan teknik melukis yang bervariasi.

Bagi Heru, yang menikah pada bulan Desember 2009, keterlibatannya kerja sama dengan Pekerti merupakan sumber pendapatan yang akan membantu dia dan istrinya, Leni, untuk mendukung masa depan anak-anak mereka untuk menyelesaikan pendidikan. Tetapi hal ini tentu saja bukan satu-satunya alasan untuk tetap bermitra dengan Pekerti.

“Bahkan sampai saat ini, saya masih menikmati bekerja dibidang kerajinan,” kata Heru. Produk kerajinan Pramanik ini terbuat dari kayu MDF, mahoni dan albasia, yang bersumber dari pemasok yang berbasis di Sumedang sejak 1970-an, dan cat akrilik berbasis air yang diperoleh  dari Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *