RAMAI-RAMAI MENABUNG SAMPAH MENUAI RUPIAH

Kantor Gemah ripah KLH melihat bank sampah sebagai salah satu cara jitu untuk mengelola sampah. Perputaran dananya mencapai ratusan juta rupiah. Semakin banyak sampah, semakin menggunung laba yang diraup. Kini jumlahnnya mencapai 170-an bank sampah.

Segerombolan orang berpakaian bekas kemasan plastic berbondong-bondong memenuhi panggung. Mereka kemudian terlihat ramai-ramai seperti membuang sesuatu. Tak lama kemudian, muncul seniman pantomime kondang,Jemek Supardi. Dengan ekspresi prihatin, Jemek pelan-pelan memunguti apa saja yang dibuang tadi.

Seorang pembawa acara menjelaskan bahwa acara pementasan itu menunjukkan betapa masih banyak masyarakat yang tak peduli pada sampah. Pertunjukan pantomime ini memang khusus digelar untuk menyambut Pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Bank Sampah di Yogyakarta pada 12-13 September lalu.

Benar, ini tak salah cetak. Kementrian Lingkungan Hidup (KLH) bekerja sama dengan pemilik “bank sampah” memang mengadakan rakernas unik ini untuk pertama kalinya. Karena itu, sesuai dengan temanya, rakernas ini tentu semarak dengan segala hal tentang pengolahan sampah.

Lihat saja, para peserta rakernas disambut dengan karpet jalinan bekas plastik kemasan, seperti bungkus mie instan, deterjen, dan kembang gula. Sebanyak 225 kursi peserta terisi penuh. Mereka kebanyakan terdiri dari perwakilan pemerintah daerah dari 16 provinsi, staf dinas lingkungan hidup, serta lembaga dan komunitas lingkungan hidup.
Diluar arena rakernas, sejumlah pedagang memanfaatkan kesempatan ini dengan memejeng produk mereka. Dari tas, dompet,pigura,dan aneka kerajinan lainnya yang dijual Rp. 25.000 sampai Rp. 50.000. Semuanya tentu terbuat dari limbah sampah. Hasil kerajinan sampah ini umumnya hasil binaan Lestari, LSM lingkungan yang getol mengolah sampah.

“Bank sampah punya peran penting membiasakan masyarakat memilah dan mengelola sampah.” Kata Menteri Lingkungan Hidup, Gusti Muhammad Hatta, dalam pidato pembukaan rakernas. Proyek ini, menurut Hatta, sesuai dengan target KLH, yakni pengelolaan sampah setidaknya mencapai 7% di tiap daerah.”Sebenarnya,kalau bisa,tiap kota besar di Indonesia memiliki minimal lima bank sampah,” katanya.Jika ini tercapai, kata Hatta, niscaya program Indonesia bebas sampah pada 2014 dapat tercapai.

Menurut Asisten Deputi Pengelolaan Sampah (KLH), Sudirman,yang juga menjadi Ketua Panitia rakernas, acara ini dilaksanakan karena pertumbuhan bank sampah lumayan pesat dan berkembang di sejumlah kota. Bank sampah menjadi salah satu pelaksanaan program 3R (Reduce, Recycle, Reuse) yang efektif, yakni mengurangi sampah, mendaur ulang sampah, dan menggunakan kembali bahan-bahan yang dapat dipakai.

Tak hanya itu. Dana yang bergulir dari bank sampah lumayan juga. Menurut Deputi Bidang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun, Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun dan Sampah, KLH, Masnellyarti Hilman, tiap-tiap bank sampah berpotensi menghasilkan Rp. 750.000 hingga Rp. 1 juta per bulan.

Maka, dampaknya terhadap ekonomi rakyat lumayan besar. Katakanlah tiap bank rata-rata mampu melayani 1000 nasabah. “Jika ada 40 juta keluarga yng menjadi anggota, tinggal dibagi 1000 dan dikalikan Rp. 750.000 – Rp. 1 juta, “kata Nelly.

Itu belum menghitung jenis dan produksi sampah, yang rata-rata mencapai 2,5 liter sampah per orang setiap hari. Sistem bagi untung bagi bank sampah, menurut Nelly, juga lebih banyak berpihak pada nasabah. Hasil setoran sampah umumnya 85% untuk nasabah, selebihnya, sebayak 15%, untuk pengelola bank.

Sudirman menambahkan, “Jika targetnya tiap kota minimal ada 5 bank sampah, maka hingga 2014 akan ada Rp. 53,2 milyar dana yang beredar dari daur ulang sampah, “katanya. Selain itu, jangan lupa, bang sampah juga menciptakan lapangan kerja baru, mencapai 4-5 orang untuk tiap bank.

Salah satu bank sampah yang cukup menarik perhatian peserta rakernas adalah Bank Sampah Gemah Ripah di Bantul, Yogyakarta, dan Bank Sampah Malang (lihat: Beli Sembako,Bayar Sampah). Bank Gemah Ripah didirikan Bambang Suwerda, Dosen Politeknik Kesehatan Yogyakarta, bersama sejumlah kawan sejawatnya.

Cerita sukses bank Gemah Ripah rupanya menarik perhatian KLH. Setelah beberapa kali pertemuan, Bambang kemudian mengusulkan agar diadakan rakernas bank sampah tadi. ”Gayung pun bersambut dari KLH,”ujar Bambang sambil tersenyum.

Bambang memang telah banyak membidani lahirnya bank sampah, seperti di Bontang, Pontianak, Bekasi, dan padang. ”Pak menteri sendiri yang melantik direkturnya untuk bank sampah di Padang.” Kata Bambang. Kini,lanjutnya Bambang, tak kurang dari 170 bank sampah telah beroperasi di Indonesia.

Walaupun jenisnya sama, bank sampah mempunyai karakter berbeda dengan modifikasi di sana sini. Bank Sampah gemah Ripah, misalnya tumbuh dan berawal dari program pemberdaya masyarakat. ”Tetapi ada juga bank sampah yang tumbuh dari kepentingan bisnis sampah seperti di Surabaya,”ujar Bambang.

Karena itu, rakernas ini pun banyak menyinggung aspek hukum lembaga bank sampah itu dan rambu-rambu yang dimainkan. ”Pemerintah diharapkan memudahkan izin operasional, menyediakan bank data pengepul dan industry berbahan baku sampah, memberi reward dengan pembebasan biaya retribusi, menyediakan lahan, membantu sarana-prasaran, dan memfasilitasi pemasaran. ”katanya.

Oleh sebab itu, kata Sudirman, rakernas bank sampah ini diperlukan untuk menyamakan visi, membentuk dasar badan hukum sekaligus sosialisasi. ”Ini agar tercipta kepedulian yang kontinu terhadap pengelola sampah,” kata Sudirman lagi.

Kepala Pusat Studi Lingkungan Hidup Unibersitas Gajah mada (UGM),Yogyakarta, Hari Kusnanto, menyambut positif maraknya bank sampah itu,”Ini salah satu cara jitu untuk mengatasi problem sapah, terutama yang tak mudah terurai seperti plastik. Kalau dibakar, palstik menjadi polutan dan mengganggu kesehatan dan gangguan endokrin.” kata dosen Fakultas Kedokteran UGM bidang kesehatan masyarakat dan penyakit menular itu.

“Yang paling utama, gerakan ini dating dari masyarakat. Selain mengurangi pencemaran, juga mampu mendatangkan uang.”katanya. Bahkan, Hari yakin, suatu saat produksi hasil daur ulang sampah dapat bersaing dengan produk konvensional.

Karena itu, Hari menilai, pemerintah wajib mendukung gerakan ini.”Tugas pemerintah adalah menyediakan anggaran untuk program-program yang memperluas ketrampilan warga. Investasinya tidak hilang karena ini untuk community development yang terus bergulir. Masalah sampah dapat diatasi, pemerintah dan masyarakat untung.”tuturnya.

NUR HIDAYAT DAN ARIF KOES HERNAWAN (YOGYAKARTA)

Di kutip dari : Majalah GATRA, 5 Oktober 2011

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *