Persaingan, Waspadai Terjangan “Made (Better) In” China….

chinaTidak lama lagi produk-produk China diramalkan segera membanjiri banyak negara. Produk-produk itu tidak lagi sekadar produk massal atau produk “kacangan”, tetapi produk-produk berkualitas tinggi.

Pendiri BD+A Design, Irvan A Noerman, mengingatkan, produk China berkualitas atau made (better) in China harus segera diantisipasi. “Dulu produk china dianggap jelek, tetapi mereka akan bangkit, ” kata Irvan saat menjadi pembicara “Trend Forecasting 2014” di ajang Indonesia Fashion Week, Minggu (17/2), di Jakarta.

Mantan Perdana Meteri Singapura Lee Kuan Yew belum lama ini juga mengajak kita mewaspadai kebangkitan China. Pandangannya dituangkan dalam buku berjudul The Grand Master’s insight on China, the United States and the World. Buku itu masih hangat diperbincangkan karena baru diterbitkan pada 1 Februari 2013.

Terkait industri kreatif, bagaimanakah nasib pelaku dan masa depan industri kita saat China mampu memproduksi barang-barang berkualitas?

Boleh saja membanggakan “kekayaan” budaya dengan keberadaan 600 etnis. Boleh saja dengan melimpahnya keberagaman etnis dapat didesain dan diproduksi sebuah karya baru setiap 1-3 bulan sekali. Kita mengerti budaya etnis-etnis tersebut jika mau dan mampu dapat diolah menginspirasi desain.

Persoalannya, bagaimana jika pertengahan tahun ini, misalnya industri -China yang di dukung penuh pemerintahnya- mampu merevolusi permesinannya? Hari ini kita mencibir tekstil” batik” China yang di produksi massal oleh mesin batik cetak. Nah, bagaimana jika mesin itu nantinya mampu merekayasa kain baru menjadi kain lawasan?

Jepara dikenal luas dengan produk ukiran buah kerja tangan-tangan terampil warga setempat yang mencungkil dan memahat kayu. Desainnya juga kreativitas perajin Jepara. Ada yang berpendapat, seni ukir yang mulai dikenal sejak era Majapahit ini tak mungkin dilibas karena hanya orang Jepara yang bisa mengukir. Benarkah?

Tahun lalu, sebuah pameran di China menampilkan mesin ukir yang boleh jadi akan menggetarkan perajin ukir Jepara. Mesin tersebut mulai bisa mengukir meski tak menggores kayu terlampau dalam, kemudian mengampelas kayu. Pekerjaan menjadi lebih efisien dan hemat biaya pegawai.

Perajin Jepara seharusnya mulai deg-degan. Kemajuan tehnologi mustahil dikalahkan. Bagaimana nasib ribuan perajin Jepara, Bali, Asmat jika sebuah pabrik di China dapat memproduksi patung atau relief dalam waktu sehari – semalam bukan seminggu atau dua minggu?

Bicara tehnologi, tentu saja kita kalah dengan China. Jangankan mesin tekstil atau pahat, setiap bulan China merakit dua unit pesawat Airbus A320. Hanya China, negara di luar eropa yang diperkenankan merakit pesawat Airbus. Ingat, yang dirakit adalah pesawat Airbus bukan lagi sekadar mobil. Waspadai produk “canggih” dari revolusi permesinan di China yang tinggal menghitung hari.

Jangan lupa kedahsyatan mebel “rotan plastik” China yang menggempur mebel rotan nasional. Dengan bahan plastik, China membuat mebel yang kuat,  mudah dibersihkan, tetapi mirip rotan. Sebuah toko mebel berjaringan di Cirebon bahkan menjual kursi-kursi rotan China dengan harga lebih murah daripada kursi rotan produksi Tegalwangi, Cirebon.

Akhirnya industri rotan di Cirebon yang ikut-ikutan membuat mebel rotan dari plastik. Mengingkari keunggulan daya saing dengan berlimpahnya rotan alam Kalimantan dan Sulawesi.

Lantas, ketika mungkin tinggal desain dan kreativitaslah yang nanti dijual, ternyata kita gagap menjaganya. Di China, hanya dibutuhkan 20 hari untuk mendapatkan sertifikat hak kekayaan intelektual, sedang di Indonesia butuh berbulan-bulan. Bayangkan itu!

Pengalaman Ivan Ari Wibowo, Aradea Resati, Yosi Permana Putra dan Stephen Khrisna Lucas mendaftarkan produk dompet dan aksesoris kulit mereka bermerek Vojey adalah contohnya. Untuk mendaptkan hak kekayaan intelektual atas produk mereka, Ivan dan kawan-kawan harus membayar Rp. 1 juta dan menunggu selama satu tahun. “Katanya sih untuk verifikasi apakah nama dan produk yang kami ajukan sudah pernah ada yang bikin atau belum, ” kata Ivan.

 

Di tulis ulang dari Koran Kompas, Jumat 22 Februari 2013.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *