BELI SEMBAKO, BAYAR SAMPAH

Namanya Bank Gemah Ripah. Selain ingin melambangkan kemakmuran, gemah ripah juga kependekan dari “gerakan memilah” dan “recycle sampah”. Bank Gemah Ripah memang bank khusus sampah yang beroperasi di Pendukuhan Badegan, Bantul, Yogyakarta. Oleh sebab itu, lahan kantor seluas 40 meter persegi itu pun penuh sampah.
Tentu saja bukan sampah sembarangan. Laiknya memperlakukan duit pada bank konvensional, Gemah Ripah menata “duit”nya itu dengan memilah-milah, mencatat, dan menyimpannya dengan rapi dalam karung goni. Sampah-sampah itu umumnya sampah kering, seperti kardus, plastic, kertas, botol, hingga kaleng yang disetor para nasabah. Mereka datang tiap Senin, Rabu, dan Jumat mulai pukul 16.00 hingga magrib. Tumpukan sampah tampak memenuhi sudut ruang kantor hingga ke atap.

banksampah

Gemah Ripah berawal dari gagasan Bambang Suwerda, Dosen Politeknik Yogyakarta, dan Iswanto, Aktivis Lingkungan dari Desa Sukunan, Yogyakarta. Modal awal Gemah Ripah hanya sekitar Rp. 500.000,- untuk membeli karung tempat memilah sampah. Ketika itu masih belum berwujud bank, hanya mengolah limbah sampah. “Kami menyebut program itu Bengkel Kesling atau Bengkel kesehatan Lingkungan pada Februari 2008,” kata Bambang.

Bengkel kesling diadakan karena maraknya penyakit demam berdarah di Badegan. Menurut Bambang, nyamuk merajalela akibat sampah dan limbah rumah tangga yang tak terkelola dengan baik. Maka, Bengkel kesling berusaha mengolah sampah dengan system kumpul-angkut-buang kelokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Namun rupanya untuk mengatasi masalah sampah dengan tuntas, tidak cukup hanya dengan kumpul-angkut-buang. ”Sistem itu hanya memindahkan masalah ke TPA. Sebab itulah, kemudian muncul ide mengolah sampah dengan system bank,”ujar Bambang. Dengan bank sampah, menurut Bambang, sampah mudah didaur ulang “sampah itu kan macam-macam, ada yang layak kompos, layak kreasi dan dijual kembali, dan ada yang layak buang,” katanya.

Bambang mengklaim, bank sampah sanggup mengurangi sampah hingga 30%-40%. Sebagian besar terjadi karena adanya partisipasi masyarakat dengan menyetor sampah ke bank. Di Gemah Ripah, setelah dipilah, sampah setoran itu dimasukkan ke karung yang telah diberi label nama nasabah. Tak lupa pula dicatat dalam buku besar. Nasabah juga diberi nota penyerahan dari pengurus bank.

Proses selanjutnya bergantung pada pengepul yang akan menilai sampah itu menjadi rupiah. Pengepul secara rutin berkunjung ke bank sampah jika setoran sampah sudah seberat, misalnya satu kuintal. ”Inilah yang kami sebut masa panen,” kata Bambang.

Hasil panen tadi disimpan di bank sesuai dengan catatan buku besar. Layaknya bank beneran, tiap nasabah bank sampah juga punya buku tabungan dan nomor rekening. Nasabah dapat pula mengambil tabungan dalam jangka waktu tertentu. Hingga saat ini, Gemah Ripah telah memiliki 300an buku tabungan.

Besar tabungan tiap nasabah bervariasi, Rp. 50.000 sampai Rp. 150.000.” Omset Gemah Ripah kini mencapai Rp. 750.000 per bulan,” ujarnya. Dari pendapatan tiap rekening, bank menyisihkan 15% untuk biaya operasional.

Menurut Bambang, sistem bank seperti ini tak hanya menguntungkan nasabah, melainkan juga pengepul. Soalnya sampah sudah terkumpul dan terpilah. Selain itu, pengepul juga bisa mematok harga tiap jenis sampah sesuai dengan standar harga mereka. Bahkan saking senangnya berbisnis dengan bank, salah satu pengepul sempat memberikan bonus televisi ukuran 14 inci. ”Jadi kami berharap, pemulung makin berkurang, tapi pengepul makin banyak,” tutur Bambang.

Kini selain ingin memperbanyak nasabah, Gemah Ripah juga sedang mengkaji seluk beluk aspek hukum. Jika bank sampah dapat menjadi suatu badan hukum, tentu akan mudah mengurus segala sesuatunya. Termasuk kesempatan menerima bantuan pemerintah dan swasta. Namun perkara badan hukum itu bukan masalah lagi bagi bank Sampah Malang (BSM) di Jawa Timur.

Terbentuk sejak 26 Juli lalu, BSM mengklaim sebagai bank sampah dengan badan hukum pertama di Tanah Air. Bentuknya koperasi dengan akta notaris, kemudian mendapat pengesahan dari Walikota Malang. BSM dibentuk Kader Lingkungan Malang bersama Dinas Kebersihan dan Pertemanan Malang. Dikelola 25 staf, BSM mendapat bantuan dari Walikota Malang Rp. 250 juta untuk modal dan operasional. Kucuran lain adalah dari pemerintah kota Rp. 150juta untuk sarana, seperti timbangan dan gerobak.

Nasabah BSM bisa perorangan atau kelompok binaan. Seperti biasanya, sampah yang sudah dipilah dapat disetor atau diambil petugas BSM dengan gerobak atau mobil pick up. Untuk saat ini, BSM masih mengelola sampah anorganik. ”Nasabah atau pengurus kelompok mendapat untung dari selisih harga sampah yang dibeli BSM, sedangkan BSM memperoleh keuntungan dari selisih harga mereka dengan pabrik atau mitra,” kata Direktur BSM, Rahmat Hidayat.

Misalnya, sampah plastik seperti bungkus baju, sampul undangan ,dan plastik yang masih dalam kondisi bening-bersih dihargai Rp. 1.700 per kg jika langsung disetor dan harganya akan naik menjadi Rp. 1.850 per kg kalau ditabung. Demikian juga untuk kelompok binaan mencapai Rp. 300 per kg (langsung). BSM mendapat laba dari harga jualnya sebesar Rp.2000 dan Rp. 2.100 jika sampahnya berasal dari tabungan.

Agar lebih menarik pelanggan, BSM mengembangkan jenis tabungannya menjadi tabungan pendidikan, tabungan Lebaran, tabungan kepedulian sosial ,hingga tabungan sembako. Yang terakhir memungkinkan nasabah menabung sampah layak jual untuk kemudian dapat dibelikan sembako. Oleh sebab itu, salah satu bunyi moto BSM adalah ”beli sembako, bayar sampah”.

Rahmat optimis, perputaran dana di bank sampahnya akan bertambah besar. ”Soalnya, potensinya amat besar,”katanya. Mislnya, salah satu nasabah BSM adalah sejumlah sekolah di Malang. Dari sekolah-sekolah itu, BSM setidaknya mendapat 1 ton sampah setiap pekan. ”Perputaran duitnya dapat mencapai Rp. 280 juta per bulan,” ungkapnya.

Itu baru berasal dari kalangan sekolah, menurut Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan yang sekaligus pembina BSM,Wasto, TPA Malang dapat memproduksi 400 ton sampah. ”Potensi totalnya mencapai 500-600 ton per hari,” kata Wasto. Dari jumlah itu, sampah anorganik yang dapat diolah menjadi kerajinan mencapai 7,5 ton per hari.

Inilah yang sekarang menjadi target pengolahan BSM. Menurut Wasto, dalam waktu dekat, bekerja sama dengan Politeknik Universitas Brawijaya, BSM akan membangun mesin pencacah plastik dengan kapasitas 5 ton per hari. ”Oleh sebab itu, saya yakin, problem sampah di Malang dapat lebih gampang teratasi ,” kata Wasto.

Melihat potensi sampah yang ada, Rahmat berani mematok target keuntungan BSM mencapai 70 juta per bulan. ”Tapi itu nanti. Pada saat ini perlu digalakkan bagi warga untuk menabung sampah saja dulu,”ujarnya.

Jika itu tercapai, bukan tidak mungkin, suatu saat BSM dan bank sampah lainnya tampil sekeren bank beneran. Kesan sampah yang bau dan kotor akan sirna, berganti dengan bisnis modern berkomoditas sampah.

Setidaknya, dalam Rakernas Bank Sampah di Yogyakarta, rahmat beserta dua staf BSM hadir dengan seragam hijau. ”Saya tidak pernah menyebut sebagai direktur bank sampah. Cukup direktur bank atau BSM, biar ndak pada kaget,”katanya sembari terbahak.

NUR HIDAYAT DAN ARIF KOES HERNAWAN (YOGYAKARTA)
Dikutip dari : Majalah GATRA, 5 Oktober 2011

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *